PROSES

“Oh, sulit sekali belajar Bahasa Prancis!” Sebuah ungkapan yang sangat umum terdengar di kalangan para siswa Centre Culturel Francais (CCF), dari tingkatan mana pun. Bahkan pada kenyataannya, ungkapan ini adalah ungkapan yang sangat umum dijumpai di segala situasi manusia, terlebih ketika kita hidup di Indonesia.

Sir Isaac Newton, dalam salah satu postulatnya yang kemudian dikenal sebagai Hukum Gerak Pertama Newton, mendapatkan bahwa suatu benda fisis akan cenderung bertahan pada keadaannya semula. Jelasnya, benda yang diam akan cenderung diam dan benda yang bergerak akan cenderung bergerak. Satu-satunya cara untuk memindahkan benda tersebut dari satu keadaan ke keadaan lainnya adalah dengan menginjeksikan energi eksternal ke sistem energi yang ada di dalam benda tersebut. Artinya, dibutuhkan energi lebih, atau ekivalennya dalam terminologi bahasa kita, usaha lebih, untuk mengubah keadaan suatu benda fisis ke keadaan lainnya. Setelah benda tersebut berpindah dan berada di dalam keadaan barunya, yang artinya usaha eksternal yang diberikan sudah melampaui momen inersia yang dikandung oleh benda tersebut, praktis tidak lagi diperlukan usaha untuk mempertahankan benda tetap berada dalam keadaan itu.

Secara sekilas, kita boleh saja beranggapan bahwa hal ini hanya berlaku pada benda-benda fisis. Akan tetapi, pada kenyataannya, hukum ini berlaku pada segala sesuatu yang ada di dunia yang kita ketahui ini. Memang selalu sangat sulit untuk memulai suatu pekerjaan baru, karena dalam hal ini kita berupaya untuk berpindah dari keadaan lama kita (tidak bisa melakukan) ke suatu keadaan baru (bisa melakukan). Energi eksternal atau usaha lebih yang diindikasikan oleh Hukum Gerak Pertama Newton memanifestasikan dirinya di dalam kesulitan yang kita hadapi itu. Namun, setelah kita mampu melewati tahap-tahap awal yang sulit ini, jalan selanjutnya cenderung untuk begitu mulus dan mudah dilalui, karena pekerjaan tersebut pada akhirnya berubah menjadi suatu kebiasaan bagi diri kita. Perhatikanlah bagaimana kita sekarang terbiasa untuk berjalan, ketika 27 – 30 tahun yang lalu kita hanyalah seorang makhluk kecil yang hanya mampu sekedar menggerak-gerakkan tungkai-tungkai kita di pelukan sang ibu. Perhatikan pula, apabila kita kembali ke konteks Bahasa Prancis di atas, bagaimana seseorang pribumi di suatu daerah mampu berbicara bahasa “ibu” daerahnya. Perhatikanlah dengan seksama berbagai hal di dalam hidup ini, dan kita pasti akan membenarkan kenyataan itu.

Akan tetapi, jikalau semenjak awal kita telah terlebih dahulu gentar dengan kesulitan yang harus dihadapi dalam memulai suatu pekerjaan, kita tidak akan pernah sampai pada titik di mana “praktis tidak lagi diperlukan usaha untuk melakukan kerja” yang hendak kita lakukan. Tentunya, hal ini mengasumsikan bahwa kita hanya akan diam saja di tempat, pada keadaan baru yang telah dicapai itu, dan tidak menghendaki perbaikan dan penyempurnaan. Perbaikan dan penyempurnaan mensyaratkan input usaha eksternal yang berkesinambungan, sebagaimana disiratkan oleh rumus-rumus fisika tentang percepatan gerak. Lagi-lagi kita berterima kasih kepada Sir Isaac Newton.

Satu-satunya hal yang dapat mengatasi keengganan, atau “inersia”, di dalam diri kita hanyalah niat. Di dalam salah satu haditsnya Rasulullah SAW bersabda bahwa “Segala sesuatu dimulai dari niat”. Niat di dalam Islam, sebagaimana yang saya yakini, mengimplikasikan konsistensi tindakan (persistence). Apabila kita berkeinginan untuk melakukan sesuatu, namun tidak menindaklanjutinya dengan tindakan yang terus-menerus dan konsisten, maka saya percaya bahwa hal itu hanyalah sekedar suatu “keinginan”, bukan sebuah “niat”. “Niat” dan “keinginan” di mata Islam yang saya yakini, adalah dua hal yang berbeda. Dengan demikian, tidak ada “jalan instan” menuju segala sesuatu. Bahkan metodologi-metodologi belajar yang paling canggih pun, yang sedemikian gencarnya dipromosikan sebagai “jalan pintas” untuk “bisa” sesuatu, mengharuskan kita untuk melakukan suatu bentuk latihan secara berulang-ulang. Apa yang ditawarkan oleh metodologi-metodologi semacam ini hanyalah “mengefisienkan” pembelajaran kita, namun seefisien apapun suatu sistem, input tetap dibutuhkan. Proses itu tetap ada di sana, dan proseslah yang merupakan hal terpenting, bukan hasil. Perhatikanlah anak-anak SMA yang sedemikian percayanya terhadap kemumpunian suatu bimbingan tes persiapan UMPTN, BTA misalnya, atau Sony Sugema College, atau Nurul Fikri, atau sebutlah apa. Mereka memang dapat lulus UMPTN. Namun apakah mereka mampu menunjukkan kinerja yang “luar biasa” di bangku kuliah, di UI, ITB, UGM? Sebagian dari mereka hanyalah mahasiswa rata-rata, sisanya, sekedar menghela napas lega karena tidak tersaring oleh evaluasi SKS dan tidak terdepak dari universitasnya – terkecuali, sebagian terkecil saja dari mereka yang mengubah persepsinya di tengah jalan dan berupaya belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak ada “jalan instan” menuju segala sesuatu, apa pun juga hal itu.

Thomas Alva Edison, pendiri sebuah raksasa di kancah bisnis, bahkan yang saat ini terbesar di dunia, General Electric dan pemegang paten untuk lebih dari 1000 penemuan, pernah berujar, “Jenius adalah 1% talenta dan 99% kerja keras”. Islam sendiri menempatkan posisi yang begitu tinggi bagi orang-orang yang “berilmu” dan “berakal”. “Ilmu” dan “akal” dalam konteks yang saya yakini, tidak merujuk kepada konsepsi “kecerdasan” (IQ) sebagaimana yang dimaksud oleh ilmu psikologi modern. Kecerdasan atau IQ, yang merepresentasikan SEBERAPA CEPATNYA kita dapat menyerap hal yang disampaikan atau memahami sesuatu, hanyalah merupakan salah satu bentuk talenta yang dimiliki manusia. Ilmu dan akal dalam Islam yang saya yakini, merujuk kepada keluasan pengetahuan, akumulasi hasil dari suatu proses pembelajaran yang konsisten dan tak kenal lelah. Akumulasi pengetahuan (yang benar dan bermanfaat, tentunya) akan menjadikan kita mampu melihat kebenaran dengan lebih jelas, atau setidaknya dalam konteks subyektivitas kita sebagai manusia, lebih mendekatkan pemahaman kita kepada kebenaran obyektif yang hanya dimiliki Allah SWT. Talenta, terutama yang berlebih, hanya akan merangsang pertumbuhan ego dengan kecepatan yang tidak lazim. Sebagian besar dari mereka yang mengklaim dirinya atheis, adalah orang-orang yang cenderung “overly-talented”, sementara sebagian lainnya adalah orang-orang yang begitu mudah bertekuk-lutut kepada “inersia” berpikirnya namun, anehnya, juga mengalami pertumbuhan ego dengan kecepatan yang tidak lazim – dalam bahasa Al-Qur’an: “orang-orang miskin yang sombong”.

Akumulasi pengetahuan tidak memiliki korelasi yang begitu erat dengan talenta IQ. Setiap orang dapat memiliki keluasan pengetahuan, kalau memang ia mau melampaui prosesnya, terlepas dari tinggi-rendahnya IQ seseorang (tentu ini merujuk kepada IQ “orang normal”, bukan IQ “orang cacat”). Dengan demikian, memang proseslah yang jauh lebih dihargai di mata Allah SWT, bukan hasil, karena Dia-lah yang menentukan hasil itu, bukan kita. Demikianlah kita dapat memahami, mengapa Allah berfirman kepada Rasulullah dalam firmannya yang saya rangkumkan sebagai, “Wahai Muhammad, dakwah adalah urusanmu. Akan tetapi, keimanan seseorang adalah urusan-Ku.” Proses-lah yang dituntut oleh Allah SWT kepada paragon Islam, Muhammad. Demikian pula, proses-lah yang dituntut oleh Zat Pencipta Yang Maha Kuasa itu kepada kita semua. Oleh karena itu, marilah sejak saat ini kita mencoba untuk tidak terlalu cepat berkata “Oh, saya tidak bisa” ketika kita harus melakukan suatu hal, apalagi jika hal tersebut menyandang bobot yang penting, atau bahkan sesuatu yang harus dilaksanakan. Cobalah untuk terlebih dahulu berkata, “Saya akan melakukannya semampu saya”, atau mungkin lebih baik, “Saya tidak ingin melakukannya.”

Special thanks:
- IHHG, for the inspiration

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.